




I hate Monday!!! Mungkin kalimat itu tepat menggambarkan apa yang menimpa masyarakat stren kali Jagir di Surabaya. Betapa tidak, pagi-pagi buta pemerintah kota sudah mengutus pasukan-pasukannya yakni Satpol PP dan polisi untuk menggusur rumah yang berdiri di jalan Jagir Wonokromo itu. Walhasil, pagi itu telah menjadi nightmare tersendiri bagi para warga yang sudah bertahun-tahun tinggal disana.
Rumah dan bangunan yang berdiri di pinggiran kali Jagir itu memang bisa dikatakan liar karena tidak memiliki sertifikat. Rencananya wilayah tersebut akan dibangun sarana penghijauan. Pemerintah Kotapun sudah memberi peringatan pada warga untuk segera meninggalkan rumah mereka. Namun sayangnya peringatan pemkot ini hanyalah sosialisasi melalui media belaka, bukan langsung bertemu dengan warga untuk memusyawarahkan bersama.
Kabarnya warga akan direlokasi ke rumah susun yang sudah disiapkan pemerintah. Namun lagi-lagi itu masih kabarnya. Nyatanya warga mengaku tidak tahu-menahu mengenai relokasi itu. Dan itupun masih belum ada pertemuan antara pemkot dengan warga.
Penggusuran ini sebenarnya akan dilakukan pemerintah pada Juni tahun ini. Namun entah mengapa baru menginjak bulan Mei ini pemkot tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sudah mengerahkan “pasukan”nya. Walhasil, warga menjadi histeris dikejutkan oleh “Surprise” yang membuat mereka mengalami mimpi paling buruk sepanjang hidupnya.
Sekitar 300-an lebih rumah dan bangunan di hamparan kali Jagir itu dihancurkan. Padahal selain sebagai tempat tinggal, rumah dan bangunan itu telah menjadi ladang usaha tersendiri bagi warga. Jalan raya yang setiap hari selalu ramai dilalui kendaraan itu hari ini (4 Mei 2009) tampak seperti puing-puing bekas perang. Rumah-rumah yang sudah dihuni warga lebih dari 20 tahun itu kini rata dengan tanah. Bahkan yang mengerikan beberapa masjid dan musholla terpaksa harus ikut hancur rata dengan tanah. Entah apa yang dipikirkan pemkot mengenai masalah ini. Tsunami Aceh maupun bencana Situ Gintung saja tidak berani menghancurkan, bahkan menyentuh tempat ibadah umat muslim tersebut. Mengapa pemkot yang hanya manusia biasa berani merobohkan rumah Allah itu?